Sabtu, 07 Mei 05 - oleh : SAKSI
majalahsaksi.com Alangkah cepatnya waktu berlalu. Banyak peristiwa-peristiwa
besar telah terjadi. Beribu bahkan berjuta pengalaman terhampar dihadapan
sebagai pelajaran. Para pendukung dakwah ada yang datang dan ada pula yang
berguguran. Sesuai sunnatullah dan sunnah da'wah itu sendiri. Karena jalan
dakwah ini hakekatnya akan selalu menelusuri jalan yang panjang, sedikit
pendukung serta banyak rintangan.
Belum begitu lama rasanya bersama teman-teman sesama mahasiswa berdakwah
kian kemari. Sehari bahkan ada sanggup yang mengisi sampai 3 kelompok
halaqoh. Gesit, lincah, mobile, idealis, semangat yang penuh izzah,
menegakkan kalimatullah. Pada hari-hari itu maupun bulan-bulannya selalu
dipenuhi dengan agenda halaqoh, training, tadabbur al-qur'an dan sesekali
melakukan tafakkur alam. Karena sering dicurigai - dimasa orde baru- maka
kegiatan inipun sering dilakukan dengan sembunyi-sembunyi, di musholla, di
petak-petak kontrakan, di tempat-tempat kos, ditaman-taman bahkan di gudang
yang tidak terpakai lagi. Pada masa itu rasanya, hitungan barisan pendukung
dakwah masih sangat sedikit, masih dibawah seratusan orang. Ketika itu
ikatan ukhuwwah terasa sangat kuat, rasa persaudaraan serta ta'awun diantara
teman-teman seperjuangan sangatlah kental. Suasana senasib dan
sepenanggungan terbangun melalui pertemuan-pertemuan di jalsah ruhiyyah dan
diskusi mengenai masalah ummat serta segala problematikanya.
Semangat beribadah juga tearasa sangat tinggi, disamping ibadah mahdhoh,
puasa senin-kamis, qiyamul lail serta getol sekali melaksanakan
ibadah-ibadah sunnat lainnya. Hal ini diiringi oleh semangat perjuangan yang
menyala-nyala, perubahan melakukan shibghoh, pencelupan nilai-nilai Islam.
Jenggot dipanjangkan sementara dahi mulai berwarna hitam sebagai tanda bekas
sujud.
Diantara ikhwah satu persatu mulai menikah diusia yang relatif masih muda.
Terharu rasanya melihat -dalam acara-acara tertenu seperti walimahan-
pasangan muda ini berjalan kaki, suami isteri, bertukar kendaraan umum
sambil menggendong anak perempuan kecil berjilbab, yang manis-manis dan
lucu.
Walaupun rata-rata ikhwah saat itu hanya tinggal di rumah-rumah petakan yang
plesetkan dengan istilah kontraktor, sehingga mereka bebas memilih jenis
kontrakan yang sersuai dengan kekauatan kantong masing-masing.
Ada kenangan indah dimana diantara kita masih hapal nama-nama anak
masing-masing. Semua kenangan ini seolah masih terasa baru kemarin dan masih
segar dalam ingatan kita semua.
Namun kini zaman telah berubah, jumlah pendukung sudah mencapai rastusan
ribu orang. Bahkan dalam pendataan terakhir, jumlah simpatisan yang ikut
berpartisipasi dalam acara-acara kampanye PKS menjelang pemilu legislatif
mencapai 3,5 juta orang. Dari sini PKS mampu meraih suara sekitar 8,3 juta
suara. Tantangan dakwah semakin meluas, para kompetitor mulai serius
memperhitungkan keberadaan PKS, bahkan tanpa sungkan, partai sekaliber
Golkar sekalipun memasukkan poin PKS sebagai ancaman pada pemilu 2009 nanti.
Sebuah analisa yang terlalu panjang, kalau tidak disebut saja dengann
kepanjangan.
Namun beberapa keistimewaaan yang dulu dipegang erat, seperti disiplin mulai
mengendor, kehadiran dalam jadwal pertemuan mulai sering molor. Janji-janji
mulai tidak ditepati. Bahkan mulai terlihat gejala-gejala munculnya
penyakit-penyakit pasca tanzhim, semacam degradasi moral setelah berada di
shaff jamaah dakwah ini.
Sebagian dari yang dulunya ikhlash mulai menampakkan bibit-bibit riya'
Mulai terlihat gejala para kader yang tadinya hati-hati kemudian menjadi
ghurur (lupa diri).
Disamping itu muncul pula gejala suka menonjolkan diri yang menenggelamkan
sikap tawaddhu' (rendah hati). Ikatan ukhuwwah mulai mengalami perubahan
orientasi.
Sehingga sebagian kader yang tadinya sudah mulai bersemangat, kini juga
tertular dan menunjukkan sikap-sikap malas. Bahkan yang lebih memprihatinkan
lagi adanya indikasi-indikasi telah terjadinya pelanggaran batas-batas
ketentuan syari'ah. Mana boleh mana yang tidak, batasan halal haram perlahan
mulai dilanggar.
Walaupun secara perhitungan presentasenya masih sangat kecil, namun secara
sampling gejala ini sangat menggusarkan. Hal ini harus segera ditangani
dengan serius dan sungguh-sungguh. Ibarat api yang berada di tengah rumah
kita, harus dipadamkan sejak kecil. Jangan ditunggu besar, sebab nanti kita
tidak akan mampu mengatasinya.
Pengelolaan kader dengan jumlah ratusan ribu tentu merupakan suatu tantangan
sendiri bagi kita yang sudah berada di shaff dakwah ini. Pertumbahun kader,
disamping menggembirakan hati kita, akan tetapi sekaligus mengingatkan,
bahwa setiap kader berpotensi sebagai pendukung gerakan dakwah ini, dan
sebaliknya juga berpotensi sebagai pembuat musykilah (gangguan) bagi kita
semua.
Pola pembinaan harus diperbaiki, bangunan manajemen kita harus segera ditata
ulang, kita tidak boleh alergi dengan penyesuaian-penyesuaian metode sesuai
dengan kemajuan zaman disamping semakin canggihnya musuh-musuh merusak
bangunan Islam ini.
Kini kesibukan di lapangan politik membuat sebagian kader kewalahan untuk
menyeimbangkan komposisi kegiatan yang mesti dilakukan. Terkadang medan
politik terasa lebih menyedot energi dan perhatian yang lebih besar,
sehingga bidang-bidang lain dari bangunan dakwah ini agak terabaikan. Seni
untuk tetap tawazun dalam pengelolaah dakwah ini merupakan sebuah keharusan,
jika kita ingin gerakan ini tetap stabil dan terus meluncur maju ke depan.
Maka core aktifitas kita, yaitu kewajiban tarbiyyah tidak boleh terlalaikan.
Dia harus menjadi prioritas dalam rancangan-rancangan program. Sebab dari
sinilah kita mendapatkan suplai enegi bagi aktifitas dakwah yang padat ini.
Kelemahan pada sisi tarbiyyah tentu akan mengakibatkan berbagai
gejala-gejala negatif, seperti penyakit pasca tanzhim yang telah diurai
diatas tadi.
Program maintenance dari dakwah dan pencarian alternatif-alternatif solusi
dalam pengelolaan dakwah sangat dibutuhkan. Dan diantara yang sering
dibincangkan dalam suasana konflik kesibukan politik dan dakwah seperti
sekarang ini adalah tarbiyyah dzatiyah, semacam tarbiyyah mandiri.
SEbenarnya kegiatan seperti ini mulai diajarkan di sekolah-sekolah dasar
dengan sebutan Cara Belajar Siswa Aktif. Dimana murid-murid diberikan
paket-paket buku dan modul, para siswa yang lebih aktif akan mendapat
kemajuan yang signifikan dalam setiap semesternya.
Dalam tarbiyyah dzatiyah, kata 'mandiri' tidak identik dengan infirodi
(individual). Jadi pengelolaan maupun konsepnya tetap dalam lingkup amal
jama'i, namun para kader dirangsang untuk melakukan upgrade masing-masing
diri dengan banyak membaca, hafalan ayat dan hadits, latihan olah raga,
beladiri dsb. Yang semuanya itu tidak mungkin harus dilaksanakan seluruhnya
dalam acara-acara struktur untuk para kader.
Kongkritnya, setiap kader hendaklah menyusun program-program harian,
pekanan, bulanan bahkan tahunan, dan setiap kader harus mendisiplinkan diri
menjalankan rancangan program tersebut. Jika hal-hal sederhana ini kita coba
mulai dari kita sendiri, maka ungkapan seorang ulama, menjadi terbukti dalam
istilah 'Al-Wajibatu aktsaru minal awqaat', bahwa ternyata
kewajiban-kewajiban kita lebih banyak dari waktu yang tersedia. Dengan
demikian setiap waktu menjadi begitu bermakna dan berlalu tanpa kesia-siaan.
Insya Allah.
Tifatul Sembiring